Jogja – Denpasar jalan darat

Perjalan Jogja menuju Denpasar atau sebaliknya melalui darat, tentu saja pemandangan ini tidak asing bagi kita.  Menyeberngi laut dari Pelabuhan Ketapang di Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk di Pulau Bali.
Sebelum masuk ke kapal di Pelabuhan Ketapang, seperti biasanya kartu identitas  dan kelengkapan surat-surat diperiksa oleh petugas.

Bila kita beruntung pada waktu penyeberangan dalam cuaca baik, kita dapat menikmati pemandangan dari atas kapal.  Terasa ada yang berbeda, angin sepoi-sepoi, bau air laut dan keadaan kapal yang “berciri” membuat perasaan yang berbeda dan tak terlupakan bagi penumpangnya.

Menginjakkan kaki di tanah Dewatha, sebelum keluar dari pelabuhan kembali di periksa kartu identitas dan surat-surat kendaraan.  Kurang lebih 30 menit melakukan perjalan di Pulau Dewatha, ada razia, SIM dan surat-surat kendaraan kembali diperiksa.  Dalam hati bertanya, apakah sudah demikian tidak amannya Pulau Bali?  Sampai-sampai berkesan over protectiv dalam menjaganya.

Berangkat dari Jogja dengan mobil bersama anak-anak dan istri, mempunyai kenangan tersendiri.  bila di buat sebuah novel bisa 500 halaman lebih, tentu saja novel akan lebih banyak halamannya di bandingkan menempuh perjalanan menggunakan pesawat.  Berangkat dari Jogja kurang lebih jam 8 pagi, karena ada GPS peta cetak tidak kami bawa.
Setelah melewati kota Caruban kami memutuskan untuk istirahat sambil makan siang di sebuah warung yang bernama warung Pojok, sebuah warung sederhana dilihat dari makanan dan minuman yang di jual dan cara penyajiannya termasuk kebersihan warung.  Rasa makanan yang di jual cukup enak dan sesuai dengan selera, seperti Gado-gado, Pecel, Rawon, Soto, Nasi Rames, dan lain-lain.  Kopi susu yang saya pesan tidak kalah enaknya, kopi susu racikan desa memang beda baik aroma ataupun rasanya, walaupun mungkin mereknya sama dengan yang dijual di jogja 🙂 .

Setelah kurang lebih 45 menit kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan.  Sesampai di daerah Gempol, kami  membeli sebungkus kelepon (makanan dari tepung berbentuk bulat-bulat didalamnya berisi gula merah disajikan dengan taburan parutan kelapa)., bentuknya unik menarik kami untuk membeli, tidak seperti kelepon yang ada di kota asal kami, rasanya oenak.

Sampai di pelabuhan Ketapang kira-kira pukul 10 malam, setelah menyeberang kami memutuskan untuk menginak di salah satu hotel di sekitar pelabuhan Gilimanuk.  Sesuai rencana semula kami akan berwisata ke Taman Nasional Bali Barat.  Sebuah obyek wisata yang belum banyak dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Bali.
Taman Nasional Bali Barat merupakan salah satu kawasan pelestarian alam di Bali yang memiliki ekosistem asli dan merupakan habitat terakhir bagi burung Curik Bali (Leucopsar rothschildi, streesman 1912).  Taman Nasional Bali Barat mempunyai luas 19.002,89 Ha yang terdiri dari 15.587,89 Ha berupa wilayah daratan dan 3.415 Ha berupa perairan yang secara administratif terletak di Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Buleleng.  Taman Nasional Bali Barat dapat dimanfaatkan untuk ilmu pengetahuan, penelitian, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Yang menarki dari tempat wisata ini antara lain kita dapat melihat Burung Jalak Bali di habitat aslinya, burung jalak yang mempunyai warna biru di sekitar matanya, selain itu ada tempat wisata Pulau Menjangan, untuk ke Pulau Menjangan kita harus mggunakan perahu dengan jarak tempuh kurang lebih 10 – 15 menit.  Selain itu terdapat hotel yang terletak di seberang Pulau Menjangan, Waka Shorea Ressort.  Yang unik dari hotel tersebut antara lain didalam kamar tidak ada TV dan Telepon, bahkan beberapa kamar di bangun dengan dinding kaca disekeliling kamar, untuk menjaga agar privasi tamu tetap ada, kamar di lengkapi dengan korden yang tidak tembus pandang.
Setelah cukup melihat-lihat kami kembali dengan menggunakan perahu, selama perjalanan kami melihat beberapa orang berenang menggunakan kaca mata renang yang di lengkapi dengan selang untuk bernafas (snorkeling).
Hotel yang kami kunjungi labih unik lagi, beberapa kamar di bangun di tepi pantai diatas pasir/rawa ditengah kerimbunan pohon bakau.  Dinding kamar terbuat dari kasa anti nyamuk yang di beri korden untuk menjaga agar privasi tamu tetap terjaga, kamarmandi tidak menyatu dengan kamar tidur,  TV dan telepon.

Setelah puas berkeliling, kami melanjutkan perjalanan ke Ubud tempat kami akan menginap.  Hotel tempat kami menginap di bangun di tengah-tengah sawah, kami memilih jenis kamar Duplex (Duplex Room adalah jenis kamar tingkat, bagian bawah untuk ruang tamu dan bagian atas untuk ruang tidur).  Dari tempat tidur kita bisa melihat pemandangan sawah yang sangat indah.  Kami berencana tinggal 5 hari, 3 hari di Ubud dan 2 hari di Sanur, namun rencana berubah, anak-anak sangat senang tinggal di Ubud, jenuh tinggal di kota begitu komentarnya, akhirnya kami memutuskan memperpanjang tinggal di Ubud.

Pagi hari ketika akan kembali ke Jogja GPS error, loding terus.  akhirnya kami kembali ke Jogja tanpa menggunakan GPS, berbekal pengalaman yang lalu dan berdasarkan rambu petunjuk jalan kami melanjutkan perjalanan pulang dan selamat sampai tujuan, walaupun sempat tersesat di Madiun 🙂 .

Sekitar tahun ’70an, sangat berbeda bila kita melakukan perjalan darat dari Jogja ke Bali pulang pergi.  Selain waktu perjalan yang di tempuh lebih lama, karena kondisi jalan pada waktu itu, dan ketersediaan kapal untuk menyeberang yang sangat terbatas, kami sering menginap semalam di Banyuwangi, pagi harinya menyeberang ke Pulau Bali.  Dan tidak ada yang memeriksa kartu identitas dan surat-surat kendaraan seperti sekarang.

Melakukan perjalanan pulang dari Denpasar ke Jogja, lebih lancar.  Akan masuk ke kapal di Pelabuhan Gilimanuk tidak ada pemeriksaan identitas dan surat-surat kendaraan seperti ketika datang dari Pulau Jawa.

Advertisements